Archive for » 2010 «

4 Cara Mengatasi Kram

Vera Farah Bararah – detikHealth

img
(Foto: buzzle)

Jakarta, Otot yang kram bisa dialami oleh siapa saja dan pada bagian tubuh mana saja, tapi kebanyakan masyarakat mengalami kram di bagian kaki. Lalu bagaimana cara mengatasi kram?

Kram otot yang terjadi secara tiba-tiba bisa disebabkan oleh satu otot atau lebih dan berlangsung mulai dari beberapa detik hingga menit. Kondisi ini paling umum disebabkan oleh kejang otot, selain itu ada juga akibat dehidrasi, sirkulasi mineral yang tidak merata atau masalah lainnya.

Kaki menjadi bagian tubuh yang paling sering terkena serangan kram, hal ini karena kaki menjadi penopang berat tubuh sehingga rentan mengalami tekanan yang berlebihan. Seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (15/7/2010) ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kram dan membuat kondisi seseorang menjadi lebih baik, yaitu:

Melakukan pemijatan
Terapi pijat adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi kram, karena bisa membantu otot menjadi rileks. Melalui pemijatan ini akan membuat mobilisasi jaringan menjadi lebih lunak serta merangsang sirkulasi atau aliran darah.

Akibatnya aliran darah bisa membawa oksigen dan nutrisi lainnya ke sel, sehingga membantu membersihkan limbah metabolisme termasuk asam laktat yang tertumpuk di otot.

Mengompres dengan air hangat
Mengompres dengan sesuatu yang hangat bisa memperbaiki fleksibilitas tendon dan juga ligamen, mengurangi rasa sakit, meningkatkan aliran darah dan metabolisme serta mengurangi kejang otot. Hangat yang dialirkan bisa merangsang pelepasan zat endorfin yang dapat menghambat rasa sakit.

The Sports Injury Bulletin menunjukkan ketika aliran panas tersebut diterapkan pada bagian tubuh akan membuat dinding pembuluh darah menjadi rileks, namun sebaiknya tidak diterapkan jika bagian tubuh mengalami peradangan. Untuk meningkatkan fleksibitas jaringan, suhu yang diberikan sebaiknya berkisar antara 40-45 derajat celsius dan durasinya selama 5-30 menit.

Melakukan peregangan atau streching
Peregangan adalah salah satu solusi jangka pendek untuk kram. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) arah yang harus dilakukan untuk menahan peregangan tergantung dari otot mana yang mengalami kram, hal ini bisa ditentukan berdasarkan apa yang bisa membuat kaki merasa bertambah parah atau lebih baik.

AAOS menyarankan agar melakukan peregangan sebelum dan setelah laihan, hal ini bisa berguna sebagai pemanasan bagi otot. Salah satu caranya bisa dengan berjalan di tempat atau berjalan cepat.

Mengonsumsi cairan
Beberapa kondisi kram disebabkan oleh dehidrasi, sehingga mengonsumsi air lebih banyak bisa membantu meringankan kram. Seseorang yang melakukan olahraga akan mengalami peningkatan suhu tubuh, sehingga konsumsi air harus lebih banyak dari biasanya untuk mencegah dehidrasi yang dapat memicu kram.

(ver/ir)

SOurce:

health.detik.com

Category: Humor  Leave a Comment
Rahasia Mengembangkan Kepribadian

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak orang prihatin mengenai perkembangan orang muda saat ini. Mereka lebih lambat dewasa. Bandingkan dengan masa-masa menjelang dan setelah Indonesia merdeka, orang-orang muda yang mengambil tanggung jawab mendirikan bangsa dan negara ini.

Bung Karno dan Bung Tomo merupakan contoh bagaimana orang muda pada waktu itu telah mampu keluar dari perhatian terhadap diri sendiri. Mereka memberikan perhatian kepada hal yang besar, berupa kehidupan yang lebih luas tanpa tanggung-tanggung: bangsa dan negara Indonesia yang sangat besar!

Kondisi pada waktu itu memang menciptakan peluang tersebut. Orang muda mendapat tantangan bertindak. Di dalam keluarga pun terdapat tradisi pendidikan yang sangat menekankan tanggung jawab sedini mungkin, dengan menerapkan sistem ganjaran dan hukuman (reward dan punishment) yang konsisten.

Hampir tiap keluarga menerapkan pembagian tugas kepada semua anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga maupun tugas lain membantu orangtua.

Pentingnya Tanggung Jawab dan Disiplin
Dengan praktik-praktik orangtua pada masa lalu tersebut, entah disadari atau tidak, sebenarnya orangtua telah melatih anak untuk memiliki perhatian serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama, dan mengembangkan disiplin.

Selain melalui tugas rumah tangga, anak-anak juga mengalami pendisiplinan melalui aturan-aturan jam tidur siang, jam belajar bersama, jam bermain, dan sebagainya. Tampak bahwa pemberian tanggung jawab dan pendisiplinan sejak dini berperan sangat penting dalam mendorong pendewasaan seorang anak.

Keadaan saat ini sungguh berbeda. Anak sering tetap diperlakukan sebagai bocah hingga mereka remaja, tanpa menerima kewajiban yang memungkinkan mereka memberikan perhatian terhadap lingkungan. Kewajiban yang diberikan sebatas belajar dan menghasilkan nilai rapot yang memuaskan bagi orangtua.

Akibatnya, banyak anak tetap bergantung pada orangtua hingga lulus sarjana. Padahal, tanpa pengalaman tanggung jawab dan disiplin, kemampuan mengatasi masalah kurang berkembang. Mereka juga kurang memiliki daya juang. Terutama bila tidak punya prestasi atau keterampilan tertentu, mereka cenderung mengalami krisis harga diri.

Alih-alih memikirkan tanggung jawab akan dunia sekelilingnya, mereka justru sibuk mengatasi dirinya sendiri yang tidak bahagia. Sebagian bahkan menggunakan cara-cara tidak sehat untuk mengatasinya (seperti menggunakan obat terlarang) di samping memboroskan waktu untuk mencari pemuasan diri sesaat.

Manfaat Berorganisasi
Mengapa terjadi perubahan pola pendidikan orangtua dalam kultur kita? Perubahan tersebut nampaknya tidak lepas dari perkembangan masyarakat yang semakin komplek, sehingga menggeser orientasi-orientasi dalam hidup.

Perubahan kurikulum pendidikan formal yang cenderung membebani anak dan orangtua, ikut mendorong orangtua untuk membebaskan anak dari tugas-tugas lain selain sekolah atau mencapai prestasi lain. Membiasakan anak selalu dilayani oleh pembantu rumah tangga merupakan faktor yang lain.

Lalu, langkah apa yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kepribadian anak-anak muda kita? Menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan disiplin merupakan keharusan. Mendorong aktif dalam organisasi yang memiliki program terstruktur seperti OSIS, sanggar seni, lembaga pengabdian, merupakan langkah lain.

Sebuah penelitian mengenai manfaat organisasi pemuda di Amerika memberikan gambaran yang menarik mengenai apa saja perkembangan yang dialami oleh para anggota organisasi yang diteliti.

Larson dkk (2004), melakukan observasi dan wawancara terhadap para anggota dan pimpinan tiga organisasi yang berbeda basis kegiatan (pendidikan, seni, dan kemasyarakatan), masing-masing 3-4 bulan. Melalui hasil penelitian ini kita dapat melihat manfaatnya bagi perkembangan kepribadian anggotanya.

1. Mengembangkan inisiatif
Temuan Larson dkk pada tiga program yang diteliti, sesuai dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa keterampilan inisiatif para anggota tumbuh melalui tantangan yang mereka hadapai dalam mencapai suatu tujuan.
Pada mulanya para anggota ”sekadar melakukan”, tetapi setelah beberapa minggu kemudian mereka mulai tampak mengembangkan strategi untuk menghadapi suatu tantangan (tugas), dan lebih memobilisasi waktu dan usaha. Beberapa hal yang dipelajari sebagai hal yang menghasilkan kesuksesan program adalah: (a) memulai secara lebih awal; (b) mengelola waktu; (c) bekerja keras.

Beberapa anggota tampak menunjukkan peningkatan dalam strategi berpikir. Mereka menemukan pencerahan (insight) dalam hal memecahkan masalah, mengorganisasi langkah-langkah pekerjaan, dsb, agar penyelesaian tugas dapat lebih efektif. Sebagian anggota malah dapat mentransfer peningkatan kemampuan inisiatifnya ke dalam sisi lain kehidupannya, yaitu dalam perencanaan karier.

2.    Transformasi dalam motivasi
Dengan adanya perkembangan keterampilan inisiatif, motivasi para anggota juga berubah. Larson dkk menemukan, dalam tiga organisasi yang diteliti banyak anggota yang awalnya bergabung dengan alasan ekstrinsik: untuk memuaskan orangtua, mengisi waktu luang bersama teman sebaya, menjadi prasyarat lulus sekolah, atau karena ada honor. Namun, sebagian besar kemudian menunjukkan perubahan.

Motivasi mereka menjadi lebih intrinsik (adanya minat pribadi terhadap program), dengan alasan dapat terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang baru, segar, dan menarik secara pribadi.

3.    Memperoleh modal sosial
Perkembangan remaja, selain berupa perkembangan karakter dan penguasaan keterampilan baru, juga perkembangan dalam pembentukan relasi pribadi, termasuk relasi dengan orang dewasa. Untuk itu, orang muda butuh relasi dengan orang dewasa yang dapat memberi modal sosial, yakni yang memberi informasi dan sumber daya yang menghubungkan mereka dengan dunia orang dewasa.

Modal sosial selain baik untuk individu juga baik untuk komunitas karena adanya pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan kepercayaan, sehingga membentuk keadaan masyarakat yang sehat. Keterlibatan dalam program-program kepemudaan merupakan kesempatan untuk membangun modal sosial dan berkembang menjadi orang-orang dewasa yang berkeahlian tinggi.

Dari penelitian Larson dkk ditemukan bahwa para anggota dari tiga organisasi yang diteliti memanfaatkan relasinya dengan orang-orang dewasa dalam komunitas yang ada untuk keperluan pendidikan dan perencanaan karier mereka.

Banyak anggota mengaku telah belajar dari para orang dewasa mengenai pilihan pendidikan dan karier di masa mendatang. Dalam relasinya dengan orang-orang dewasa sepanjang kegiatan yang dilaksanakan, mereka dapat menemukan secara nyata bagaimana orang dewasa mengelola tantangan hidup, dan mereka ikut mengembangkan keahlian untuk menghadapi tantangan.

4.    Menjembatani perbedaan
Bentuk lain modal sosial/interpersonal diperoleh melalui teman-teman sebaya, yakni dengan mengembangkan hubungan dan pemahaman terhadap berbagai aspek perbedaan manusia (etnis, agama, gender, status sosial-ekonomi, tujuan, dsb). Hasil penelitian Larson dkk menunjukkan melalui program-program pada tiga organisasi yang diteliti, para anggota mengalami perkembangan kompetensi untuk memahami dan menghargai keanekaragaman manusia.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa para anggota belajar menjembatani perbedaan melalui proses tiga tahap:
a.    Pertama, mengalami interaksi dengan orang-orang muda lain yang berbeda dengan dirinya dalam berbagai hal. Melalui interaksi ini mereka mengalami hubungan yang bermakna dengan teman berbeda etnis dan sebagainya serta membangun rasa saling percaya.
b.    Kedua, melalui interaksi tersebut mereka belajar tentang orang lain dan mulai melihat orang lain secara lebih utuh. Dengan bersama-sama mengerjakan apa yang menjadi program dalam kelompok-kelompok kecil, mereka menjadi saling bergantung dan akrab satu sama lain.
c.    Ketiga, mereka mengalami perubahan dalam berpikir yang memengaruhi bagaimana interaksinya dengan anggota kelompok-kelompok lain. Berdasarkan pengalaman berinteraksi secara akrab dengan orang lain di dalam kelompok, selanjutnya dalam interaksi dengan kelompok lain mereka telah mampu untuk menghargai perbedaan-perbedaan, sehingga dalam interaksi tidak terjadi pembedaan antarkelompok.

Namun, dalam kenyataan pencapaian tahap ketiga ini tidak berlangsung mudah. Bila sungguh-sungguh dihadapkan dengan perbedaan antarkelompok, kadang terjadi pertahanan diri, penolakan, atau pengabaian masalah yang dihadapi.
Dalam situasi seperti ini orang dewasa yang menjadi pendamping program bekerja keras menciptakan kondisi positif bagi interaksi antarkelompok. Antara lain dengan memberikan status yang sama, membangun kerja sama, kontak individu antarkelompok, dan adanya dukungan dari orang-orang dewasa (pendamping) dalam berbagi seting kegiatan.

5.    Menemukan tanggung jawab baru
Tanggung jawab merupakan kualitas yang diharapkan dimiliki orang yang berkembang menuju kedewasaan. Hasil penelitian Larson dkk menunjukkan, banyak anggota mengakui adanya proses menjadi lebih bertanggung jawab dalam perasaan maupun dalam bertindak, sepanjang keikutsertaannya dalam program. @

M M Nilam Widyarini MSi
Kandidat Doktor Psikologi

===================

source:

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/06/03/08215226/Rahasia.Mengembangkan.Kepribadian

Category: Berita  Tags: ,  One Comment
Stres karena Salah Prioritas
Jumat, 14 Mei 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam literatur Psikologi mengenai konsep diri, dinyatakan bahwa banyaknya peran yang diemban oleh seseorang akan menghasilkan konsep diri yang positif. Namun, cukup sehatkah bila kita harus menjalani berbagai peran dalam waktu yang sama?

Orang yang hanya memiliki sedikit peran dalam hidupnya, misalnya hanya menjadi istri/suami/anak dalam keluarga dan kurang memiliki peran lain di luar keluarga, memiliki konsep diri yang lebih negatif daripada mereka yang memiliki berbagai peran dalam masyarakat.

Tampaknya setiap peran yang diemban oleh seseorang (di dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan rumah, di berbagai organisasi) memberikan kejelasan mengenai siapa dirinya dan memberikan perasaan bermakna.

Dari berbagai peran yang ada, umumnya peran di dalam keluarga dan peran pekerjaan merupakan hal yang dianggap sangat penting dalam hidup seseorang. Bila terjadi kegagalan dalam dua peran ini, seseorang akan merasa sangat kehilangan dan merasa dirinya telah gagal.

Meski demikian, banyak orang yang tidak cukup puas dengan hanya memiliki peran di dalam keluarga dan di dalam pekerjaan. Itulah sebabnya berbagai orgnisasi terus bermunculan, memberi kesempatan bagi banyak orang untuk melakukan berbagai kegiatan atas dasar hobi atau minat.

Dalam hal ini norma masyarakat dan agama ikut mendorong agar setiap orang memiliki peran sosial dalam kelompok agamanya dan dalam masyarakat. Dengan menjadi anggota sebuah kelompok atau organisasi, berarti seseorang telah menambahkan peran baru dalam hidupnya.

Memiliki Banyak Peran
Dalam hal pekerjaan, orang masa kini sering kali juga tidak cukup puas dengan satu pekerjaan. Mereka yang telah berhasil menjadi praktisi bisnis tertarik untuk menjadi pengajar pada lembaga pendidikan bisnis; yang menjadi pengajar tertarik terjun berbisnis atau pengembangan proyek pendidikan lainnya; yang telah menjadi pegawai pemerintah terjun pula ke bisnis, pendidikan, dsb.

Pendek kata, di kota-kota besar terdapat kecenderungan orang menerjuni berbagai peran sekaligus. Sementara tiap-tiap peran selalu memuat suatu tuntutan peran. Karena itu, semakin banyak peran yang diemban seseorang bukan saja memberikan efek konsep diri yang positif, melainkan juga berisiko menimbulkan konflik peran dan beban kerja yang berat.

Bagaimanapun, beban kerja yang berat dan konflik peran sangat potensial menimbulkan stres pada orang yang mengalaminya. Itulah sebabnya diperlukan pengelolaan agar stres yang muncul tidak berkembang menjadi keadaan yang membahayakan (distress): menurunkan kemampuan mental, menghambat kinerja, mengganggu kesehatan fisik.

Stres merupakan salah satu risiko kehidupan modern yang semakin kompleks, yang mendorong orang untuk terus “berlari” menjalani berbagai peran sekaligus, dengan beban kerja yang berat. Namun, ada yang perlu dicatat sebagai sesuatu yang sangat merugikan kualitas kita sebagai manusia, yakni kemampuan konsentrasi.

Di satu sisi lemahnya konsentrasi dapat muncul akibat stres, di sisi lain konsentrasi juga terjadi sebagai akibat langsung adanya berbagai peran sekaligus, dengan adanya beban kerja yang berat.

Dalam keadaan menjalani berbagai peran dengan tuntutan tugas yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan, tidak memungkinkan seseorang untuk dapat benar-benar fokus pada satu hal. Tanpa konsentrasi tinggi, kita tidak akan mampu untuk menghasilkan pemecahan masalah yang memuaskan.

Problem Konsentrasi
Betapa pentingnya konsentrasi, kita dapat melihatnya dari kebiasaan orang-orang genius dalam mengembangkan kreativitas dan memecahkan masalah. Salah satu di antaranya Leonardo da Vinci.

Salah satu karya da Vinci yang terkenal adalah lukisan Monalisa. Namun, kita tahu bahwa selain di bidang seni rupa, ia juga menghasilkan berbagai penemuan di berbagai bidang: botani, kedokteran, arsitektur kota, dan kemiliteran. Bagaimana mungkin satu orang menghasilkan berbagai penemuan penting yang sangat berharga bagi peradapan?

Salah satu kebiasaan penting yang mendasari kemampuannya yang luar biasa itu adalah kebiasaan da Vinci memberikan perhatian sepenuh-penuhnya terhadap apa saja yang diindranya, yang berarti konsentrasi.

Dalam sebuah permenungannya da Vinci menyampaikan komentar: “Rata-rata orang itu melihat tanpa memperhatikan, mendengar tanpa benar-benar menaruh perhatian, menyentuh tanpa perasaan, makan tanpa cita rasa, bergerak tanpa kesadaran jasmani, menghirup tanpa kesadaran bebauana atau wewangian, dan berbicara tanpa berpikir.”

Inayat Khan, tokoh sufi yang menulis buku Dimensi Spiritual Psikologi, menyatakan, “Dengan kesibukan yang kita alami, dengan seribu hal dalam sehari, kita biasanya tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.” Padahal, dengan konsentrasi seseorang dapat lebih tajam dalam intuisi.

Pada bagian lain Inayat Khan menjelaskan, “Orang dengan berbagai tanggung jawab besar dan banyak kepentingan dalam hidup, tidak dapat mempertahankan satu pikiran tunggal, yang sesungguhnya merupakan suatu kekuatan besar.”  Pikiran tunggal adalah terserapnya seluruh keberadaan seseorang dalam suatu pemikiran, percakapan, atau tindakan tunggal.

Bila kita selalu melatih diri dengan pikiran tunggal, kita akan lebih mampu untuk berkonsentrasi. Pikiran tunggal dikembangkan melalui latihan menetapkan pemikiran pada suatu subjek sampai pemikiran tentang hal itu selesai. Sementara kita berpikir tentang subjek tersebut, jangan sampai kita berpikir tentang subjek yang lain. Hal yang sama ini juga diterapkan dalam berbicara dan bertindak.

Hati-Hati Menyusun Prioritas
Pikiran tunggal merupakan hal yang sangat penting untuk mengembangkan konsentrasi. Untuk menyokong kebiasaan kita melakukan pikiran tunggal, ada hal yang perlu dilakukan, yakni menyusun prioritas. Hal ini sepertinya sudah biasa kita lakukan, yakni bila dihadapkan pada beberapa hal untuk diselesaikan, kita cenderung memilih satu atau dua hal untuk diselesaikan terlebih dahulu, dan menunda penyelesaian hal yang lain.

Biasanya kita memilih untuk terlebih dahulu menyelesaikan hal-hal yang mendesak (urgent) dan penting, berikutnya hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak, disusul dengan hal-hal yang tidak penting tetapi mendesak, dan terakhir hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting.

Bila digambarkan urutannya sbb:
Prioritas I: PENTING dan MENDESAK
Prioritas II: PENTING namun TIDAK MENDESAK
Prioritas III: TIDAK PENTING namun MENDESAK
Prioritas IV: TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK

Urutan tersebut sekilas tampaknya tidak mengandung masalah. Namun, seseorang yang telah menjalani hidupnya dengan berbagai peran secara sangat efektif ternyata memilih urutan yang berbeda.

Sebagai contoh, sebutlah namanya Ida, ia seorang istri dan ibu dua anak, bekerja sebagai konsultan perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang asing, menempuh pendidikan doktor dalam waktu tiga tahun di bidang yang sangat diminati, meski jauh dari keahliannya sebelumnya.

Ia menjalani program doktor dengan mondar-mandir Surabaya-Yogyakarta, tetap bekerja, dan masih sempat melakukan aktivitas sosial seperti menangani korban lumpur Lapindo di Sidoarjo. Ia menyayangkan kecenderungan banyak orang untuk selalu menomorsatukan urusan penting dan mendesak seperti urutan di atas.

Mengapa?
Satu hal yang menjadi risiko memprioritaskan hal penting dan mendesak adalah kita cenderung mengalami stres. Pilihan untuk mendahulukan hal yang mendesak, membuat kita terus-menerus menciptakan situasi yang terdesak dalam diri sendiri.
Keadaan ini selanjutnya membuat kita kurang mampu berpikir secara rileks (tenang) dalam bekerja. Padahal, bekerja dengan rileks merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penyelesaian tugas. Sebaliknya bila kita bekerja dengan perasaan terdesak, cenderung menghasilkan kelelahan secara fisik dan mental serta stres. Lalu, bagaimana sebaiknya?

Urutan prioritas yang disarankan adalah menukar tempat antara prioritas I dan II. Artinya yang didahulukan adalah hal-hal yang penting, tetapi tidak mendesak. Hal ini berarti kita bekerja bukan untuk mengatasi persoalan-persoalan, melainkan mengantisipasi supaya tidak terjadi persoalan di masa yang akan datang.

Selain lebih bermakna antisipatif, mendahulukan hal-hal yang tidak mendesak tidak membuat kita merasa selalu terdesak, sehingga kita tetap memiliki energi untuk pekerjaan-pekerjaan lain, termasuk pekerjaan yang penting dan mendesak. Itulah sebabnya, kita perlu bijaksana menyusun prioritas. @

M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

===============

source:

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/05/14/08425652/Stres.karena.Salah.Prioritas

Menganalisa Gangguan Mental Bella dan Edward

Rabu, 09/06/2010 13:15 WIB

Vera Farah Bararah – detikHealth

img
(Foto: latimes)

Houston, Edward Cullen si remaja pemurung dan Isabella Swan yang suka bertindak nekat adalah salah satu gejala gangguan mental yang banyak dialami manusia. Karakter Twilight pun jadi ajang para praktisi untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan.

Fenomena film Twilight ternyata tidak hanya mampu menghipnotis romantisme jutaan orang dari berbagai kelompok usia. Film ini juga menjadi alat pengajaran efektif para psikiater di Amerika.

Dalam film Twilight diceritakan Edward adalah seorang drakula berusia lebih dari 100 tahun tapi memiliki penampilan layaknya remaja 17 tahun. Sikap remajanya ditunjukkan dengan kondisi kemurungan.

Sedangkan Bella adalah remaja yang rela mengorbankan dirinya untuk masuk ke dalam bahaya atau risiko. Untuk kedua gangguan mental seperti ini menurut para psikiater adalah pengobatan dengan cara terapi perilaku kognitif untuk melawan pikiran negatifnya secara otomatis.

Analisa Bella dan Edward ini terungkap dalam konferensi Asosiasi Psikiater Amerika bulan lalu. Psikiater menganalisis neurosis pada Twilight adalah semacam alat pengajaran yang efektif dalam 12 minggu mata pelajaran dan dijuluki dengan ‘Therapy Bites’.

“Mahasiswa dalam disiplin kesehatan mental terkadang bisa belajar banyak tentang apa artinya menjadi manusia melalui film atau novel yang populer, hal ini sama baiknya dengan duduk bersama pasien,” ujar Glen Gabbard, profesor psikiatri dan psikoanalisis di Baylor College of Medicine di Houston, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (9/6/2010).

Penggunaan buku dan film dalam mempelajari perkembangan kejiwaan sebagian besar karena karakter fiksi tidak perlu melindungi privasi seperti jika berhadapan dengan pasien nyata.

Kondisi ini berarti seseorang bisa mempelajari gejala dari ganguan psikiatri secara menyeluruh. Sedangkan jika menggunakan pasien, tidak semua orang mau menceritakan gejala yang dialaminya secara terbuka.

Dalam Twilight praktisi bisa mengevaluasi faktor biologis, psikologis dan budaya yang mempengaruhi masing-masing karakter, misalnya:

  1. Bisakah perubahan warna mata Edward sebagai gejala penyakit Wilson (kondisi langka yang menyebabkan tubuh harus mempertahankan kandungan tembaga).
  2. Mungkinkan minum darah sebagai salah satu bentuk pica (gangguan medis yang mana orang sering makan sesuatu yang tidak lazim).
  3. Mengenali gejala gangguan mental, beberapa ahli menyatakan dengan membaca Twilight bisa membantunya memahami kondisi pasien yang sebenarnya.

Dr. Rosegrant dalam Journal of the American Psychoanalytic Association tahun lalu menuturkan selain dari Twilight, buku-buku Harry Potter juga banyak menunjukkan kecemasan remaja, tema kekecewaan, perjuangan untuk sebuah identitas bahkan fantasi agresi.

Namun demikian pemikiran ini tidak disetujui oleh semua pihak, karena para kritikus berpendapat bahwa mempelajari kondisi manusia melalui fiksi adalah sesuatu yang tidak realistis.

(ver/ir)

========================

source:

http://health.detik.com/read/2010/06/09/131540/1374807/763/menganalisa-gangguan-mental-bella-dan-edward

Atasi Depresi Dengan Asam Folat

Rabu, 09/06/2010 14:00 WIB

Vera Farah Bararah – detikHealth

img
(Foto: dailymail)

North Wales, Selama ini asam folat dikenal sebagai salah satu vitamin yang penting untuk pertumbuhan bayi yang dikandung. Tapi ternyata asam folat ini juga bisa membantu dan mencegah gangguan depresi.

Hal ini berdasarkan dua percobaan yang melibatkan sekitar 1.000 orang dengan dosis harian asam folat. Satu penelitian dilakukan oleh University of Oxford untuk mencari tahu apakah vitamin ini bisa mencegah depresi pada orang yang masih muda. Sedangkan penelitian kedua dilakukan di Bangor University, North Wales dengan melibatkan orang dewasa yang mengalami depresi sedang hingga berat.

Seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (9/6/2010) hasil penelitian menunjukkan bahwa sepertiga dari penderita depresi memiliki kadar asam folat yang rendah, dan juga semakin besar kekurangan asam folat maka gejala depresi yang diderita juga akan semakin parah. Selain itu orang yang memiliki kadar folat rendah, memiliki respons yang kurang terhadap antidepresan.

Beberapa studi telah menemukan bahwa pasien depresi akan kekurangan folat. Kemungkinan banyak orang yang depresi cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit, hal ini menyebabkan seseorang kekurangan banyak vitamin dan mineral termasuk asam folat.

Sebuah studi yang terdapat dalam Journal of Clinical Psychiatry menemukan bahwa jumlah asam folat yang cukup diperlukan oleh otak agar bisa bekerja dengan baik. Jika otak kekurangan zat ini bisa menyebabkan risiko lebih tinggi terhadap depresi dan juga memperburuk respons obat antidepresan.

Selain itu dalam studi yang dipublikasikan American Journal of Psychiatry, sekelompok peneliti memberikan obat fluoxetine (Prozac) pada 213 pasien dengan gangguan depresi. Setelah delapan minggu diberikan fluoxetine, pasien dengan kadar folat rendah secara signifikan cenderung menunjukkan peningkatan dari terapi obat. Asam folat yang dikombinasikan dengan fluoxetine bisa menjadi pengobatan awal yang efektif untuk depresi.

Asam folat diperlukan untuk membuat DNA, RNA, membangun sel dan cukup aktif di otak dalam sistem saraf pusat. Hal ini mempengaruhi produksi senyawa esensial tertentu dan zat neurotrnasmitter yang membawa pesan ke berbagai bagian otak.

Salah satu teori yang memungkinkan hubungan antara depresi dan asam folat adalah tingkat folat yang rendah menyebabkan SAM (S-adenosylmethionine) juga rendah yang bisa memicu terjadinya depresi karena adanya gangguan di otak.

Depresi adalah suatu kondisi serius yang memerlukan perawatan berkelanjutan dengan metode terapi bicara, penggunaan obat-obatan atau keduanya. Penemuan hubungan antara asam folat dan depresi masih cukup baru, sehingga masih diperlukan studi lebih lanjut untuk membuatnya menjadi sebuah panduan.

(ver/ir)

=================

source:

http://health.detik.com/read/2010/06/09/140051/1374836/766/atasi-depresi-dengan-asam-folat

Tes untuk Mengukur Kekuatan Memori Otak

Sabtu, 29/05/2010 16:15 WIB

Vera Farah Bararah – detikHealth

img
ilustrasi (Foto: reuters)

Jakarta, Sering lupa meletakkan barang, lupa kata apa yang ingin diucapkan hingga lupa membayar tagihan. Eits, hati-hati mungkin Anda memiliki masalah dengan kemampuan memori di otak. Mari tes memori otak Anda!

Uji memori ini dapat membantu memberikan gambaran yang lebih baik mengenai masalah memori yang dialami. Tes ini hanyalah sebuah tes sederhana mengenai memori.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, Sabtu (29/5/2010), cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut:

1. Mengingat tiga kata ini apel, televisi dan domba.
2. Mengingat nama dan alamat ini: Jane Jl. Pegangsaan 5 Jakarta Pusat.
3. Apakah mengalami kesulitan dalam mengingat segala hal yang telah dilakukan selama beberapa minggu terakhir?
4. Apakah sangat sulit untuk mengingat daftar yang harus dilakukan?
5. Apakah mengalami penurunan kemampuan menghitung di kepala?
6. Apakah pernah mengalami lupa membayar tagihan?
7. Apakah kesulitan mengingat nama?
8. Apakah mengalami kesulitan mengenali seseorang yang seharusnya Anda kenali?
9. Apakah mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat untuk diucapkan?
10. Apakah mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana, seperti penggunaan microwave atau kompor gas?
11. Apakah mudah lupa ini mengganggu kinerja di tempat kerja?
12. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di rumah?
13. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di dalam kegiatan sosial?
14. Sebutkan tiga nama gubernur di provinsi Anda? (menyebutkan 3 maksimal dapat 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
15. Sebutkan lima presiden terakhir? (menyebutkan 5 maksimal dapat 5 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
16. Apa menu makan malam selama dua hari yang lalu? (maksimal 6 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
17. Apa dua film yang terakhir Anda tonton? (maksimal 2 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
18. Tuliskan kembali tiga kata yang ada di awal tes? (maksimal 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
19. Tuliskan nama dan alamat yang ada di awal tes? (maksimal 2 poin, jika hanya nama atau alamat yang disebut dapat 1 poin)

Berilah nilai 1 poin setiap jawaban ‘tidak’ dan tidak mendapat poin jika jawabannya ‘Ya’. Untuk pertanyaan no 3-13 (maksimal nilainya 11 poin).

Sedangkan untuk setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan benar atau ragu-ragu berilah nilai 1 poin. Untuk pertanyaan no 14-19 (maksimal nilainya 21 poin).

Hasil tes:
Jika nilai 28-32: memori yang dimiliki masih baik dan di atas rata-rata.
Jika nilai 22-27: memori tidak terlalu buruk, tapi memori bisa ditingkatkan dengan beberapa latihan.
Jika nilai 15-21: memori agak lemah, usahakan untuk melakukan latihan dalam membantu meningkatkan memori.
Jika nilai 0-14: memori lemah, sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ke ahlinya.

Berbagai faktor bisa menyebabkan masalah pada memori, seperti stres, depresi, kekurangan vitamin dan adanya masalah pada peredaran darah.

Jika penyebab ini bisa ditemukan, maka masalah memori dapat teratasi dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

(ver/ir)

==============

source:

http://health.detik.com/

Category: Berita  Tags: ,  One Comment
Watch “Dark Island 2010 DVDRip” Online
Dark Island 2010 DVDRip 
After losing contact with its researchers on a remote island, a military corporation hires a group of scientists and soldiers to find out what went wrong. When they arrive, the team quickly discovers that experiments performed on the island have unleashed a powerful and deadly entity that will stop at nothing to destroy them all.

Belajar Sambil Tidur Meningkatkan Daya Ingat

Jumat, 07/05/2010 10:15 WIB

source: Detik.com

—————————————

Merry Wahyuningsih – detikHealth

Bantal Sound Asleep (devicedaily)

img

Chicago, Siswa yang malas mungkin sekarang punya banyak alasan untuk dapat tidur lama. Studi terbaru menemukan mendengarkan suara-suara tertentu seperti bahan kuliah saat tidur dapat meningkatkan daya ingat.

Bahkan, untuk memanfaatkan hasil temuan ini, sekarang telah diproduksi bantal yang dilengkapi dengan speaker sehingga orang bisa tidur sambil mendengarkan musik atau bahan kuliah.

Hasil studi yang telah diterbitkan dalam jurnal Science ini, menyimpulkan bahwa memori yang dikonsolidasikan pada saat tidur dapat mempengaruhi daya ingat sehingga orang dapat menghapal lebih kuat.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan di Northwestern University di Chicago ini, meneliti sekelompok siswa untuk melihat 50 objek yang semuanya dipasangkan dengan lokasi tertentu di layar komputer.

Peneliti kemudian meminta partisipan untuk berbaring. Ketika partisipan tidur, suara-suara yang merupakan setengah dari objek yang digunakan itu diperdengarkan.

Pada saat diuji, siswa-siswa tersebut ternyata lebih mampu menempatkan objek-objek yang mereka dengar selama tidur ketimbang objek-objek yang mereka lihat saat terjaga.

“Siswa dapat belajar sambil beristirahat,” ujar Jamie Moryoussef, direktur manager Sound Asleep yang memproduksi bantal speaker baru seharga sekitar 270 ribu rupiah, seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (7/5/2010).

Orang pertama yang meningkatkan teori belajar saat tidur adalah Aldous Huxley, seorang penulis yang menyebut teori ini sebagai ‘hypnopaedia’ dalam novelnya Brave New World.

Teori ini memang jauh dari yang diakui secara universal. Karena para kritikus mengatakan bahwa suara yang diperdengarkan pada malam hari akan mencegah orang tidur nyenyak, padahal tidur nyenyak dapat membantu otak menyimpan informasi lebih efisien.

Sedangkan studi lain menemukan bahwa arus listrik yang melalui otak saat tidur dapat pula meningkatkan daya ingat.

Beberapa psikiater percaya bahwa orang dapat memanipulasi otak mereka dengan proses ‘mimpi yang jelas’, yang memungkinkan orang tidur untuk mengulang kegiatan dengan manfaat yang tidak berubah pada saat mereka bangun.

(mer/ir)

Metode Bates untuk Menurunkan Minus Mata

Vera Farah Bararah – detikHealth

img
ilustrasi (Foto: fitnesshealthzone)

Jakarta, Dr William Bates adalah seorang spesialis mata yang telah meninggal dunia sejak lama tahun 1931. Sang dokter yakin banyak orang yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kacamata dengan cara melatih matanya.

Meski menghilangkan minus mata tanpa operasi masih jadi kontroversi, tapi terbukti banyak pengikut Dr Bates yang berhasil menurunkan minusnya.

Panduan menurunkan minus yang dicatat dalam bukunya berjudul ‘Better Eyesight Without Glasses’, tentu saja bertentangan dengan praktik dokter mata saat ini. Mata minus saat ini hanya bisa turun atau hilang hanya dengan operasi mata seperti lasik.

Dr Bates menemukan teknik ini setelah melakukan percobaan selama bertahun-tahun. Dr Bates mengembangkan latihan untuk meningkatkan kemampuan mata agar bisa melihat normal dan menghilangkan ketegangan yang ada akibat kebiasaan melihat dengan buruk yang menjadi penyebab masalah penglihatan.

Bukunya yang dipublikasikan pada tahun 1920, terus dijual hingga hari ini. Metode Bates tetap bermanfaat dan diikuti oleh ribuan orang di seluruh dunia.

Latihan-latihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa secara alami mata bisa melihat dengan jelas. Setiap orang baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar untuk melihat secara lebih baik lagi tanpa menggunakan kacamata.

Latihan penglihatan ini bertujuan untuk mendidik mata sehingga bisa mengatur fokus agar lebih efisien atau disebut dengan ‘fiksasi sentral’. Otot-otot mata harus dapat bergerak bebas dan membuat penyesuaian kecil yang diperlukan untuk memusatkan obyek yang dilihat.

Mata menjadi tegang karena dalam posisi tetap ‘menatap’ objek daripada melakukan gerakan konstan. Latihan ini mengajarkan seseorang untuk mengendurkan otot-otot mata dan saraf optik serta menggunakan memori dan imajinasi untuk meningkatkan koordinasi antara mata dan otak.

Latihan ini juga membantu mengatasi ketergantungan seseorang pada kacamata. Dasar dari terapi ini adalah keyakinan bahwa kombinasi dari tubuh, pikiran dan jiwa digunakan untuk melihat. Selain itu makanan, postur tubuh, stres dan kesehatan seseorang juga mempengaruhi penglihatan.

Seperti dikutip dari Eyehealthremedies, Jumat (12/3/2010) ada beberapa Metode Bates yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi
Latihan penglihatan ini membantu mata untuk rileks dan beristirahat.
Cobalah duduk dengan nyaman di depan meja kemudian taruh beberapa bantal hingga tingginya sejejer mata. Letakkan siku tangan di atas bantal tersebut kemudian tutup mata dengan dua telapak tangan hingga tidak ada cahanya yang masuk. Bernapaslah perlahan, santai dan membayangkan dalam kegelapan. Mulailah melakukan hal ini selama 10 menit sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

2. Menggoyangkan bola mata
Cobalah berdiri dan fokus pada titik yang jauh, lalu goyangkan bola mata dari kiri dan kanan atau sebaliknya sambil berkedip sebanyak 100 kali setiap hari. Berkedip berguna untuk membersihkan dan melumasi mata.

3. Memilih satu warna dalam satu hari
Pilihlah satu warna berbeda tiap hari dan melihat keluar dengan objek warna yang dipilih sepanjang hari. Ketika melihatnya seseorang akan lebih menyadari warna daripada bentuknya.

4. Berjemur
Cobalah untuk melakukan hal ini sekali dalam sehari. Kegiatan ini membutuhkan hari yang cerah atau cahaya lampu yang bagus.

Caranya tutup mata lalu lihat langsung ke matahari melalui mata tertutup. Sambil melihat matahari, perlahan-lahan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sampai sejauh yang Anda bisa hingga hampir menyentuh pundak. Hal ini membantu membawa lebih banyak sirkulasi darah ke leher. Lakukan hal ini selama 3-5 menit.

5. Menggeser penglihatan
Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer di depan wajahnya. Cobalah untuk menggeser penglihatan Anda pada tenunan kain di lengan baju, poster di dinding atau pohon di seberang jalan. Hal ini dapat membantu meningkatkan penglihatan periferal dan dapat membantu rabun jauh, rabun dekat dan masalah penglihatan lainnya. Bahkan pada beberapa kasus bisa menghilangkan katarak.

Dr William Bates memberikan tips agar saat melakukan senam mata melepaskan kacamata atau kontak lensa agar merasa lebih nyaman dan santai. Ketika melakukan latihan ini cobalah untuk sangat berkonsentrasi pada mata sehingga hasilnya lebih maksimal.

(ver/ir)

——————

source: http://health.detik.com/

Kebiasaan Sepele yang Bisa Menyebabkan Otak Rusak

Nurul Ulfah – detikHealth

img
(Foto: healthmad)

Jakarta, Otak adalah organ tubuh yang paling vital dan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jika manusia diibaratkan sebuah komputer, otak adalah prosesornya. Tapi tanpa disadari, setiap harinya otak bisa mengalami kerusakan dari kebiasaan hidup sehari-hari.

Seperti dilansir Calorielab, Kamis (11/2/2010), otak manusia terdiri lebih dari 100 miliar saraf yang masing-masing terkait dengan 10 ribu saraf lain. Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem saraf pusat.

Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

Otak adalah penyalur energi terbesar bagi tubuh. Meski ukuran otak hanya sebesar 2 persen dari keseluruhan berat badan manusia, tapi seluruh kegiatan tubuh dikontrol olehnya. Artinya jika berat badan seseorang 60 kg, maka berat otaknya sekitar 1,2 kg. Hampir 75 persen otak manusia terdiri atas air.

Hanya sekitar 10% fungsi otak yang difungsikan oleh manusia, dengan demikian seharusnya masih banyak potensi otak yang belum diolah oleh manusia. Apalagi kekuatan kompetensi otak adalah sekitar 1013 – 1016 operasi per detik.

Untuk itulah otak perlu dijaga dan dirawat, jika tidak penyakit-penyakit yang merusak otak pun bisa terjadi. Seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (11/2/2010), berikut ini 10 kebiasaan sepele yang menyebabkan otak menjadi rusak, yaitu :

1. Tidak sarapan
Mereka yang tidak sarapan akan memiliki kadar gula darah yang rendah. Hal ini akan memicu ketidakcukupan nutrisi pada otak padahal otak butuh nutrisi yang cukup untuk tetap bisa bekerja. Akibat kurang suplai nutrisi terutama glukosa, akhirnya kemampuan otak akan cepat menurun.

2. Makan berlebihan
Sikap yang terlalu berlebihan bisa mengeraskan pembuluh darah di otak yang akhirnya dapat menurunkan kekuatan mental.

3. Merokok

Semua orang tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan ada banyak dampak buruk yang dihasilkan bagi organ tubuh jika merokok. Khusus untuk organ otak, merokok bisa menyebabkan otak menyusut dan memicu penyakit pikun atau Alzheimer. Sel-sel saraf akan menyusut pada bagian hippocampus dan korteks depan yang berfungsi menyimpan ingatan.

4. Konsumsi gula berlebih

Terlalu banyak mengonsumsi gula akan mengganggu proses penyerapan protein dan nutrisi sehingga tubuh akan mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) dan akhirnya mengganggu perkembangan otak.

5. Polusi udara

Otak adalah organ yang mengonsumsi oksigen paling banyak dari tubuh. Menghirup udara yang penuh polusi akan mengurangi suplai oksigen ke otak dan akhirnya mengurangi efisiensi otak dalam bekerja.

6. Kurang tidur
Tidur akan membuat otak berisitirahat. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama sama saja dengan membunuh sel otak perlahan-lahan karena otak terus dipaksa untuk tetap menyala padahal otak juga butuh istirahat.

7. Menutup kepala saat tidur
Tidur dengan kepala ditutup bantal misalnya, akan meningkatkan konsentrasi karbondioksida ke otak. Saat bernafas dengan kepala tertutup, karbondioksida hasil bernafas akan masuk kembali ke dalam tubuh dan hal itu sangat berbahaya.

8. Tetap bekerja dalam keadaan sakit
Memaksakan diri untuk bekerja atau belajar dalam kondisi sakit sangat tidak baik untuk otak dan akan merusak sel-sel otak.

9. Jarang berbicara
Percakapan akan membantu seseorang untuk terus mengaktifkan sel-sel otaknya, apalagi percakapan yang berbau intelektual. Orang yang jarang berbicara akan membiarkan sel-sel otaknya mati perlahan-lahan karena tidak pernah mengaktifkannya.

10. Jarang menstimulasi pikiran
Berpikir adalah cara paling baik untuk melatih otak. Kurang menstimulasi otak dengan berbagai hal akan menyebabkan otak menyusut. Sel-sel otak akan mati karena tidak ada sesuatu yang membuat otak berkembang.

Penyakit yang berhubungan dengan otak antara lain ketidak mampuan berkomunikasi (Asperger syndrome), trauma atau kerusakan batang otak (traumatic brain injury), keterbelakangan mental (Down syndrome), epilepsi, autisme, ganguan kejiwaan (psychiatric disorders), penyakit disorientasi otak (Alzheimer), kelainan otak kronis yang mengganggu pergerakan (Parkinson), kelumpuhan (Paralyses), kerusakan atau kematian sebagian otak (partial brain degenerative disorder), Szhizoprenia dan lainnya.

Pengobatan yang biasa diterapkan untuk penyakit-penyakit otak adalah menggunakan obat-obatan dan terapi psikis. Tapi kini peneliti dan para ilmuwan sedang giat mengembangkan teknik pengobatan terapi gen dan stem cell yang diyakini dapat memperbaiki neuron atau bagian otak yang telah rusak atau mati.

Selain itu, pengembangan virus tertentu yang telah dimodifikasi secara molekular juga menjadi alternatif baru yang sedang duji peneliti. Virus yang telah dilemahkan ini kemudian diinjeksi ke pasien dan selanjutnya akan bermanfaat memperbaiki sistem saraf yang rusak.(fah/ir)

==========

source: detik.com

Category: Berita  Tags: , ,  6 Comments