Tag-Archive for » Indonesia «

Cuaca Ekstrem di Indonesia Mulai Hari Ini
Selasa, 19 Januari 2010 | 04:36 WIB

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO

Sistem peringatan dini cuaca antariksa di LAPAN.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan terjadi di wilayah Indonesia mulai hari ini hingga Kamis (21/1/2010). Salah satu faktor pendukung adalah adanya daerah tekanan rendah di sebelah utara dan barat Australia bagian utara yang membentuk daerah pumpunan atau pertemuan angin yang memanjang dari Sumatera bagian tengah hingga Laut Jawa serta dari Laut Maluku hingga Papua Barat.

Faktor pendukung itu berpengaruh terhadap proses pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitarnya. Nilai labilitas udara cukup labil, kelembaban udara cukup besar, dan suhu muka laut masih hangat mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Wilayah yang berpotensi dilanda hujan lebat dan disertai  petir dan angin kencang adalah Sumatera bagian selatan; pesisir barat Sumatera; pesisir timur Sumatera bagian selatan; Kalimantan bagian barat dan timur; Jabodetabek;  sebagian besar Pulau Jawa; Sulawesi bagian utara, tengah, dan selatan; Bali; Nusa Tenggara;  Maluku Utara dan Tenggara; serta Papua bagian tengah dan selatan.

source:kompas.com

Category: Berita  Tags: , ,  One Comment
IM2 Dukung Open Source Indonesia

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Jakarta – PT Indosat Mega Media (IM2) menyatakan dukungannya terhadap penerapan Open Source di Indonesia. Sebagai bukti nyata, 50% dari total jumlah server anak usaha Indosat itu diklaim telah menggunakan aplikasi maupun sistim operasi berbasis open source.

Dukungan IM2 terhadap open source juga coba diwujudkan dengan partisipasi IM2 di acara Global Conference on Open Source (CGOS), pertemuan tingkat dunia mengenai open source yang berlangsung di Shangri-La Hotel Jakarta pada 26-27 Oktober 2009.
Acara ini dibuka oleh Menkominfo Tifatul Sembiring dan dihadiri Duta Besar Brazil untuk Indonesia, Edmundo Sussumu Fujita.

“IM2 akan terus mendukung perkembangan Open Source di Indonesia sehingga pemanfaatan komputer akan meningkat seiring dengan semakin mudah dan murahnya aksesibilitas melalui open source,” ujar Direktur Utama IM2 Indar Atmanto dalam keterangannya, Rabu (28/10/2009).

Di ajang CGOS, IM2 menyediakan akses internet gratis menggunakan teknologi WiFi berkecepatan 2 Mbps. IM2 juga menyediakan internet cafe dimana pengunjung dapat terhubung melalui internet menggunakan lima unit notebook yang disediakan dengan sistem operasi menggunakan open source seperti Linux, Ubuntu, Firefox, dan lainnya.

Akses internet gratis ini juga dapat dinikmati semua pengunjung hotel. Cukup menyalakan fitur WiFi pada notebook, pengunjung pun siap untuk berselancar internet.

Aplikasi maupun Operating System berbasis open source sudah lama diimplementasikan di IM2. Bahkan sejak awal pendirian perusahaan di tahun 2000-an.

Saat ini sejumlah aplikasi penting IM2 baik internal maupun eksternal berbasis open source seperti Top Up System, Payment Gateway, Portal Kongkoow, i-Pay, Corporate Email, Web Server, dll.

“Pilihan terhadap open source tidak hanya pada masalah biaya yang lebih hemat namun juga pada pilihan support yang lebih luas dalam bentuk konsultasi maupun advise dari pihak ketiga. Bahkan portal Kongkoow dan i-Pay kami sudah 100% open source,” ungkap Syaiful Anwar, Head of IT Operation IM2.

Ke depan, perusahaan itu mengaku akan terus menggalakkan pemakaian open source seiring dengan semakin banyaknya pilihan opsi dan alternatif aplikasi maupun operating system berbasis open source.

“IM2 akan terus update terhadap perkembangan IT terkini dengan motivasi untuk menghadirkan internet yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat. Penggunaan open source merupakan salah satu diantaranya,” imbuh Indar.

Di ajang GCOS ini berkumpul lebih dari 500 peserta dari berbagi penjuru dunia mendengarkan dan berdiskusi dengan pegiat dan pencinta open source lainnya.

Pada acara yang telah digelar sejak tahun 2004 ini, Betti Alisjahbana, Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) dalam kata sambutan pembukaan GCOS, mengemukakan bahwa open source sudah sangat layak tampil ke depan dengan dukungan besar dari berbagai pihak membuat penetrasi open source sungguh di luar dugaan begitu baik.

( rou / rou )

Hujan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
Sabtu, 3 Oktober 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Hujan berpotensi terjadi di sebagian besar kota provinsi Indonesia, Sabtu (3/10)

No
K o t a
Cuaca
Suhu Udara (oC)
Kelembapan (%)
1
Banda Aceh

Hujan Ringan

23
33
45
89
2
Medan

Hujan Sedang

24
32
69
96
3
Pekanbaru

Hujan Sedang

24
32
65
93
4
Batam

Hujan Ringan

24
32
70
90
5
Padang

Hujan Sedang

21
31
68
98
6
Jambi

Hujan Ringan

23
29
80
95
7
Palembang

Hujan Ringan

24
34
53
94
8
Pangkal Pinang

Hujan Ringan

24
33
45
85
9
Bengkulu

Hujan Ringan

23
30
65
97
10
Bandar Lampung

Hujan Ringan

24
34
46
94
11
Pontianak

Hujan Ringan

24
34
60
96
12
Samarinda

Hujan Ringan

23
31
68
92
13
Palangkaraya

Hujan Ringan

22
32
55
97
14
Banjarmasin
Berawan
24
34
50
95
15
Manado

Hujan Ringan

22
33
50
94
16
Gorontalo

Hujan Ringan

23
34
52
95
17
P a l u

Hujan Ringan

23
30
60
90
18
Kendari
Berawan
25
34
55
82
19
Makasar
Berawan
25
35
51
92
20
Majene

Hujan Ringan

25
32
67
93
21
Ternate
Berawan
25
33
52
86
22
Ambon

Cerah Berawan

24
30
72
97
23
Jayapura

Hujan Ringan

23
33
70
97
24
Sorong

Hujan Ringan

24
33
60
98
25
B i a k
Hujan Ringan
24
31
72
95
26
Manokwari

Hujan Ringan

23
32
61
94
27
Merauke

Hujan Ringan

24
33
58
91
28
Kupang

Cerah Berawan

22
34
55
90
29
Sumbawa Besar

Cerah Berawan

23
34
50
90
30
Mataram
Berawan
23
33
60
92
31
Denpasar
Berawan
24
30
78
93
32
Jakarta

Hujan Ringan

23
34
56
90
33
Serang

Hujan Ringan

23
33
56
91
34
Bandung

Hujan Ringan

23
33
56
91
35
Semarang

Hujan Ringan

24
35
48
85
36
Yogyakarta

Hujan Ringan

23
30
60
85
37
Surabaya

Cerah Berawan

24
35
47
84
Hebat…Indonesia Juara Kompetisi Enterpreneur Internasional di London!
Selain berhasil meraih penghargaan khusus ‘Wirausahawan Sosial Berprestasi’, Johansen juga menjadi juara kedua pada ‘IYCE Design Award 2009′. Berkat kemenangan itu, Indonesia masih memegang rekor sebagai satu-satunya negara di dunia yang paling banyak meraih gelar internasional, yaitu sebanyak 5 kali sejak 2006.

Selasa, 29 September 2009

LONDON, KOMPAS.com - Nama Indonesia kembali berkibar di dunia internasional. Kali ini, prestasi diperoleh setelah menggondol penghargaan tingkat dunia di ajang ‘British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Award’ di Inggris.

Demikian pengumuman, yang dilaksanakan di festival ‘100 % Design’ di London, Inggris, pada Jumat (25/9) lalu, itu diterima oleh Kompas.com, Selasa (29/9). Prestasi itu disumbangkan oleh arsitek muda Indonesia, Johansen Samsoedin.

Selain berhasil meraih penghargaan khusus ‘Wirausahawan Sosial Berprestasi’, Johansen juga menjadi juara kedua pada ‘IYCE Design Award 2009′. Berkat kemenangan itu, Indonesia masih memegang rekor sebagai satu-satunya negara di dunia yang paling banyak meraih gelar internasional, yaitu sebanyak 5 kali sejak 2006.

Sementara itu, saingan terdekat Indonesia, yaitu India, hanya berhasil meraih 4 penghargaan. Bisa dikatakan, IYCE merupakan gelaran unik di antara penghargaan bidang-bidang kreatif lainnya. Sebabnya, acara ini mengangkat peran wirausahawan di sektor kreatif dan menghubungkan para pelakunya di negara-negara berkembang dengan negara Inggris.

Tercatat, lebih dari 3,000 wirausahawan kreatif dari 47 negara pernah berpartisipasi di ajang ini sejak pertama kali diluncurkan oleh British Council pada 2004 lalu. Namun, khusus penghargaan “Wirausahasan Sosial Berprestasi” baru pertama kali dianugerahkan di ajang IYCE Award 2009.

Category: Berita  Tags: ,  Leave a Comment
Wah…Indonesia Berpotensi Kembangkan Bioetanol
Ilustrasi: Bietanol dapat menjadi pilihan dalam mengurangi kerusakan lingkungan sebagai efek samping berkembangnya dunia industri dan transportasi.

Jumat, 25 September 2009

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Para peneliti mengatakan, sebagai negara yang kaya akan hasil produksi pertanian dan perkebunan, Indonesia berpotensi mengembangkan bioetanol sebagai bahan pengganti bensin.

Hal tersebut diungkapkan oleh anggota tim peneliti dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Teddy Nurcahyadi, di Yogyakarta, Jumat (25/9).

“Bahkan di masa depan, konversi bahan bakar ke bioetanol dapat menjadi solusi terhadap semakin menipisnya kandungan minyak bumi,” ujar Teddy.

Menurutnya, bioetanol dapat menjadi pilihan dalam mengurangi kerusakan lingkungan sebagai efek samping berkembangnya dunia industri dan transportasi. Dia mengatakan, ada beberapa kelebihan yang dimiliki bioetanol dibanding bahan bakar bensin, antara lain karena proses produksi lebih ramah lingkungan dan melibatkan penanaman tumbuhan yang menyerap karbon dioksida di atmosfer. Selain itu, pemakaian bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, lanjut Teddy, lebih ramah lingkungan karena menghasilkan polusi yang lebih sedikit.

“Bioetanol juga memiliki angka oktan yang lebih tinggi daripada bensin sehingga jika dicampurkan pada bensin dengan komposisi tertentu bisa memperbaiki kinerja mesin,” katanya.

Dia menambahkan, tingginya angka oktan bioetanol memiliki pengaruh yang bagus terhadap emisi gas buang mesin. Angka oktan yang tinggi menyebabkan pembakaran di dalam mesin berlangsung lebih sempurna sehingga hasil pembakaran yang tidak sempurna berupa karbon monoksida dan hidrokarbon tak terbakar lainnya berkurang.

“Pencampuran bioetanol pada bensin berdasarkan hasil pengujian terbukti menyebabkan turunnya polusi karbon monoksida dan hidrokarbon tak terbakar dari mesin bensin,” katanya.

Bioetanol, katanya, merupakan salah satu jenis bahan bakar terbarukan. Bahan bakar ini dapat diproduksi dari berbagai jenis produk pertanian atau perkebunan, seperti tebu, singkong, beras, gandum, sorgum, kentang, jagung, dan buah-buahan.

“Selama kita masih bisa bercocok tanam, selama itu pula kita bisa mengolah aneka produknya menjadi bioetanol,” katanya.

Namun, Teddy mengakui, bioetanol memang mempunyai kelemahan yang bersifat teknis. Kelemahan itu muncul karena bahan bakar tersebut memiliki kandungan energi yang lebih rendah daripada bensin.

“Jalan keluar untuk mengatasi kelemahan itu sudah ada, tim kami tertarik melakukan penelitian dalam upaya mengatasi kelemahan teknis bioetanol agar bahan bakar itu dapat dimanfaatkan lebih maksimal di masa depan,” katanya.

Category: Berita  Tags:  Leave a Comment
Mengapa Malaysia Menghina Indonesia? Ternyata Ada Kaitan dengan TKI!
Rabu, 23 September 2009

BRISBANE, KOMPAS.com - Penghinaan sebagian warga Malaysia terhadap Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kehadiran sekitar dua juta pekerja Indonesia di negara tetangga itu.

“Untuk memperbaiki citra bangsa, Indonesia mutlak perlu memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, pada acara ramah tamah dan dialog dengan puluhan mahasiswa dan warga Indonesia di kampus Universitas Queensland (UQ), St Lucia, Selasa malam (22/9).

“Mengapa Malaysia menghina kita? Itu karena ada dua juta orang Indonesia (bekerja-red.) di sana,” katanya. Selama Indonesia belum mampu melipatgandakan pertumbuhan ekonomi nasionalnya agar mampu menyerap jutaan orang pencari kerja di Tanah Air, penghinaan bangsa lain terhadap Indonesia sulit dibendung, katanya.

Banyaknya warga Indonesia yang bekerja di berbagai sektor informal di Malaysia dan beberapa negara lain, tidak dapat dilepaskan dari keterbatasan daya serap lapangan kerja di Tanah Air akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang belum mampu menyerap lebih banyak pencari kerja, kata Sofyan Djalil.

Menurut anggota Kabinet Indonesia Bersatu kelahiran Aceh 23 September 1953 ini, dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar tujuh persen, misalnya, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap hanya sekitar 2,2 juta orang, sedangkan angka pencari kerja jauh di atas daya serap lapangan kerja yang ada.

Fenomena tenaga kerja Indonesia di sektor informal di luar negeri, seperti pembantu rumah tangga, juga sudah memengaruhi citra RI di kawasan Timur Tengah. “Hanya saja, pengalaman Indonesia mengirim jutaan orang pekerjanya ke luar negeri ini bukanlah hal unik dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa besar di dunia. Jepang pun pernah mengirim para pelacur ke luar negeri dahulu,” katanya.

Namun dalam tempo 40 tahun, Jepang mampu memajukan dirinya yang antara lain merupakan hasil dari pengiriman besar-besaran warganya untuk belajar di luar negeri, kata Sofyan Djalil.
Pengalaman Malaysia
Kemajuan Malaysia saat ini pun tidak terlepas dari strategi pemerintah negeri jiran itu mengirim sebanyak mungkin warganya belajar ke negara-negara industri maju, sehingga sumber daya manusianya kini umumnya “lebih baik” dari Indonesia. “Bahasa Inggris pun tidak masalah bagi mereka,” katanya.

Sebaliknya Indonesia menghadapi “bottle neck” (masalah pelik-red.) pada kualitas sumberdaya manusia. “Kualitas sumberdaya manusia adalah masalah besar di Indonesia. Di Indonesia, orang-orang ’qualified’ (ahli) sangat terbatas,” kata suami akademisi perempuan kenamaan, Dr Ir Ratna Megawangi MSc itu.

Sofyan Djalil mengatakan, sejak tumbangnya rezim Orde Baru tahun 1998 yang mengawali era reformasi, Indonesia mengalami banyak kemajuan dengan reputasi internasional yang menguat, namun bangsa ini masih dihadapkan pada sejumlah “bottle neck” akibat relatif rendahnya mutu sumberdaya manusia dan kelembagaan.

Karena itu, keunggulan sumberdaya manusia lewat pendidikan yang membangun kreativitas anak didik serta pengiriman para pelajar untuk melanjutkan studi mereka hingga ke jenjang doktor di luar negeri, sangat penting bagi pembangunan masa depan bangsa, katanya.

Kepada para mahasiswa Indonesia yang kini melanjutkan studinya di luar negeri, termasuk Australia, ia meminta mereka belajar secara sungguh-sungguh dan semaksimal mungkin memanfaatkan peluang studi yang ada dengan mengambil mata kuliah-mata kuliah di luar mata kuliah wajib dan elektif studi mereka. “Anda (mahasiswa Indonesia di luar negeri-red) adalah orang-orang terpilih karena tidak banyak warga Indonesia yang mendapat peluang ini,” katanya.

Sofyan Djalil dan istri, Dr Ir Ratna Megawangi MSc, berada di Brisbane untuk mengunjungi anak mereka yang kuliah di UQ. Di sela kunjungan pribadinya itu, Sofyan Djalil memenuhi undangan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA), Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Queensland untuk bertatap muka dan berdialog dengan kalangan mahasiswa dan warga.

Category: Berita  Tags: , ,  Leave a Comment
RI Sesalkan Aksi “Sweeping”
Jumat, 11 September 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyampaikan pesan yang jelas kepada Pemerintah Malaysia agar pemerintah negeri jiran itu memahami sensitivitas sejumlah isu yang dapat mengganggu hubungan baik Indonesia-Malaysia.

Meskipun tidak selalu menyangkut persoalan prinsip, isu sensitif berpotensi membangkitkan sentimen negatif masyarakat.

Presiden Yudhoyono menekankan hal itu ketika menyampaikan pengantar pada sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (10/9).

”Menteri Luar Negeri agar menyampaikan pesan yang jelas kepada Pemerintah Malaysia untuk betul-betul mengetahui sensitivitas terhadap isu-isu tertentu supaya tidak ada reaksi yang berlebihan. Biasanya, kita bereaksi terhadap sesuatu yang menurut kita tidak semestinya itu terjadi. Saya kira perlu disampaikan pesan yang terang dengan bahasa yang baik, tetapi juga tegas, bahwa ini demi menjaga hubungan baik kita, hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia,” ujarnya.

Menurut Presiden, sejumlah isu, antara lain penggunaan tari pendet dari Bali dalam iklan pariwisata Malaysia serta klaim terhadap beberapa produk budaya Indonesia, sebenarnya bukan tergolong persoalan prinsip, melainkan sensitif. Persoalan yang dinilai prinsip antara lain masalah batas negara, karena hal ini menyangkut kedaulatan bangsa.

Soal ”sweeping”

Terkait sejumlah isu sensitif, Presiden juga meminta masyarakat tidak merespons dengan melakukan tindakan eksesif atau berlebihan, apalagi melawan hukum, misalnya dengan melakukan sweeping terhadap warga negara Malaysia.

”Sweeping bukan langkah yang terbaik, tetapi justru memunculkan masalah baru. Pemerintah sebenarnya telah menjalankan tugasnya, kita melakukan protes, aksi diplomatik. Pemerintah bekerja, Eminent Person Group juga bekerja, jadi tidak perlu ada tindakan-tindakan yang berlebihan,” ujar Presiden.

Eminent Person Group dibentuk Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Malaysia, ketika itu Abdullah Badawi, untuk mengelola, memelihara hubungan baik, serta mencari solusi atas masalah-masalah yang terjadi dalam hubungan kedua negara.

Terkait aksi sweeping warga Malaysia yang terjadi sekitar dua jam di sekitar Jalan Diponegoro itu, juru bicara Departemen Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, membenarkan bahwa Dubes RI untuk Malaysia Da’i Bachtiar, Rabu (9/9), telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Pada pertemuan itu, seperti juga dilaporkan Bernama, Menlu Malaysia Anifah Anam menyampaikan posisi Malaysia terkait beberapa isu yang membuat hubungan kedua negara agak tegang. Termasuk di antaranya aksi sweeping terhadap warga Malaysia di Jakarta, yang menurutnya bisa memicu konflik antara rakyat kedua negara.

Wajar bermasalah

Menyangkut hubungan kedua negara, Presiden Yudhoyono mengingatkan, karena Indonesia dan Malaysia bertetangga dekat, mitra utama, dan bangsa serumpun, wajar jika kerap muncul masalah.

”Kalau dengan negara di Eropa Barat atau Amerika Latin atau Afrika tidak pernah ada masalah, itu lebih karena jarang bertemu, jarang berinteraksi, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Presiden menuturkan, penyelesaian yang baik atas beragam permasalahan yang muncul dalam hubungan Indonesia-Malaysia juga amat diharapkan oleh 1,8 juta warga negara Indonesia yang saat ini tinggal di Malaysia untuk bekerja atau studi.

Menyangkut klaim Malaysia atas produk budaya Indonesia, Presiden mengatakan, pemerintah juga memperjuangkan melalui upaya untuk mendapatkan pengakuan internasional. Dicontohkan Presiden, pada 2 Oktober nanti, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) akan menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Dua produk budaya yang sudah lebih dulu diakui UNESCO berasal dari Indonesia adalah wayang (2003) dan keris (2005).

”Ini cara yang paling baik. Pemerintah terus berupaya, setelah wayang, keris, dan sebentar lagi batik menjadi warisan budaya dunia asal Indonesia. Masih ada lagi angklung, sasando, dan sebagainya. Rakyat harus memahami bahwa pemerintah juga terus bekerja untuk itu,” kata Presiden. (OKI/DAY)

Category: Berita  Tags: ,  Leave a Comment
Senyum Indonesia Diragukan oleh Malaysia
Jumat, 4 September 2009 onion-011

KOMPAS.com -  Hasil survei The Smiling Report Swedia pada 2009 yang menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling murah senyum sepertinya harus dikaji ulang.    Karena faktanya “wajah” Indonesia masih tercitra masam di kalangan turis asing.

Norah Binti Jelani, Supervisor Muslim Department Malaysian Harmony Tour & Travel S/B, mengatakan, jangankan diberi senyum, sukses melewati birokrasi untuk masuk ke Indonesia dengan mudah saja, dianggapnya sebagai prestasi luar biasa. Norah yang juga berprofesi sebagai tour leader mengaku kerap dihadapkan pada birokrasi berbelit di sejumlah titik dalam kaitannya memandu wisatawan asal Malaysia ke Indonesia.

“Satu senyum saja sudah cukup buat kami, karena kami datang ke Indonesia untuk melancong,” katanya. Norah mengatakan,  agen perjalanan yang ditanganinya menempatkan Indonesia sebagai destinasi utama dengan tingkat frekuensi/repetisi berwisata yang tinggi.

Sementara itu, Akil Yusof, Managing Director Triways Travel Network Malaysia, meminta dengan sangat, senyum masyarakat di tanah air untuk menghibur para kliennya yang melancong ke Indonesia.  “Dan yang terpenting jangan memperlakukan kami seperti pelaku kriminal khususnya pada layanan imigrasi,” katanya.

Akil sangat menyayangkan sikap oknum dan sejumlah masyarakat di Indonesia yang tidak memberikan sambutan baik kepada turis mancanegara khususnya dari Malaysia.

Destinasi favorit

Pada dasarnya, Indonesia masih tetap merupakan destinasi terfavorit bagi masyarakat di sejumlah negara bahkan setelah terjadi peledakan bom di Mega Kuningan baru-baru ini. Bagi Malaysia, misalnya, Indonesia tetap favorit untuk dilancongi meskipun belakangan ini juga marak pemberitaan tentang isu klaim Malaysia atas kesenian Indonesia termasuk Tari Pendet.

Gary Oh yang berprofesi sebagai World Business Development Manager dari Travel Services Sdn Bhd di Malaysia bahkan berani menekankan, Indonesia tetap tujuan wisata masyarakat Malaysia yang utama meskipun hubungan kedua negara sedikit memanas dengan konflik-konflik kecil yang timbul belakangan ini.

“Itu tidak memberikan efek signifikan karena Indonesia adalah destinasi tradisional kami,” katanya. Berwisata ke Indonesia, menurut Gary, berarti “value for money” dibandingkan dengan besarnya ringgit yang harus dibelanjakan untuk melancongi Singapura. Thailand sebagai alternatif lain saat ini masih dinilai belum stabil secara politik dan keamanan.

Jadi Indonesia, di mata masyarakat Malaysia, merupakan destinasi wisata yang menarik dengan biaya yang murah, kultur yang serumpun, dan kuliner yang mirip. Malaysia hanya satu cermin di negara-negara tetangga lain, Singapura misalnya, menempatkan Indonesia sebagai primadona pariwisata masyarakat mereka.

Dua negara itu dari tahun ke tahun menjadi penyumbang jumlah wisman terbanyak ke Indonesia. Singapura pada 2008 mengkontribusi 1,197 wisman ke Indonesia sedangkan turis asal Malaysia yang melancong ke Indonesia sebesar 864.000 wisman. Indonesia juga terbukti menjadi favorit bagi masyarakat di negara lain seperti Jepang, Korea, Australia, China, Eropa, Filipina, India, dan Saudi Arabia. Negara-negara itu menjadi 10 besar penyumbang jumlah wisman terbanyak ke Indonesia dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu sudah saatnya mengingatkan kembali masyarakat di tanah air untuk mengamalkan senyum sebagai salah satu komponen Sapta Pesona; ramah tamah.  Apalagi sektor pariwisata tergolong segmen yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan nasional. Tahun lalu saja lebih dari Rp200 triliun sukses diraup dari sektor pelancongan.

Saatnya dibenahi

Senyum adalah harga mati dalam dunia pariwisata. Senyum melambangkan pelayanan prima dan profesionalitas yang kondusif bagi wisman. Senyum sekaligus menjadi simbol penerimaan yang memberikan rasa aman bagi turis asing. Akil Yusof yang sempat menjabat sebagai Country Manager Visit Indonesia Tourism Office (Vito) untuk Malaysia berpendapat, dengan tersenyum Indonesia akan memiliki modal untuk membenahi pelayanan pariwisata yang dinilainya sampai saat ini belum optimal.

“Selain servis, Anda juga harus segera membenahi infrastruktur agar sektor pariwisata maju,” katanya. Indonesia juga dinilai belum memiliki variasi obyek wisata pada destinasi-destinasinya. Sisi hospotality, logistik, dan keamanan menjadi pekerjaan rumah yang lain bagi pariwisata tanah air.

Direktur Promosi Internasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, I Gde Pitana, mengatakan, memiliki pengalaman tersendiri dimana ia secara khusus pernah ditugaskan untuk “mengajarkan” masyarakat di Sumatera Utara untuk “tersenyum”. Menurut dia, pelayanan dengan senyum tidak menjadi budaya bagi masyarakat di wilayah itu. Ia menghadapi kesulitan tersendiri untuk membuat orang Batak senyum saat menyajikan kopi pesanan wisatawan, misalnya.

“Masing-masing daerah di Indonesia memang memiliki kekhasan dan keunikan,” katanya. Oleh karena itu, katanya, ada budaya-budaya termasuk kebiasaan tertentu yang harus diubah menjadi lebih baik.

“Tidak harus budaya dilestarikan kalau tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan,” katanya. Masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Indonesia selalu tersenyum pada wisman.

Karena pada dasarnya semua kesuksesan berawal dari sebuah senyuman yang ikhlas. Jadi, Indonesia, kami minta satu senyum saja untuk pariwisata yang maju.

Category: Berita  Tags: ,  Leave a Comment
Sepenggal Pesan Harta Karun Perairan Indonesia
Jumat, 4 September 2009 | 09:59 WIB

KOMPAS.com – Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.

Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).

Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.

”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati.

Peninggalan bawah air

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).

Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.

”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.

Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).

Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.

Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.

Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.

Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.

”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.

Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter

Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.

Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.

Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.

Bukti sejarah

Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.

Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.

Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.

”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.

Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.

Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.

”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin. (HENDRIYO WIDI)

Category: Berita  Tags: ,  3 Comments
Lagu Kebangsaan Malaysia Ciptaan Orang Indonesia
Rabu, 2 September 2009 | 13:41 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinomboronion-39
SOLO, KOMPAS.com - Lagu Terang Bulan yang melodinya sama persis dengan Lagu Kebangsaan Malaysia Negaraku merupakan ciptaan Saiful Bahri, mantan pimpinan Orkes Studio Jakarta (milik RRI). Keluarga Saiful Bahri (alm) meyakini, lagu tersebut salah satu dari ribuan lagu ciptaan Saiful.

Lagu ciptaan Saiful Bahri tersebut memang pernah diminta Malaysia. Bahkan Presiden Soekarno-pada sebuah acara Perayaan HUT Kemerdekaan RI- pernah meminta Saiful memberikan lagu tersebut untuk dijadikan lagu Kebangsaan Malaysia. Ketika itu tamu-tamu yang hadir mendapat hadiah rekaman lagu-lagu Indonesia.

“Waktu itu sekitar tahun 1961 atau 1962. Bung Karno mengatakan, Ful kasih aja. Itu kan belum punya lagu kebangsaan,” ujar Subroto (74) mantan pemain Orkes Studio Jakarta, Rabu (2/9) di Solo.

Rabu siang, Subroto bersama salah satu anak Saiful Bahri, Aden Bahri mendatangi Perum Percetakan Negara Lokananta Cabang Surakarta di Solo. Aden bersama istrinya Artha Simamora (Artha Record), yang merekam lagu-lagu karya Saiful menunjukan rekaman-rekaman lagu Saiful, serta dokumen foto Saiful.

“Kami sekeluarga menyanyikan lagu itu sejak dulu. Saya mendengar pertama kali lagu Negaraku sekitar tahun 1969. Waktu dengar lagu itu saya bilang kok mirip,” ujar Aden.

Menurut Aden, dia sempat menanyakan kepada almarhum ayahnya tentang lagu yang mirip dengan Lagu Terang Bulan, dan dibenarkan itu memang melodi lagu Terang Bulan. Saat itu a yahnya justru mengaku bangga karena lagunya dipakai sebagai lagu kebangsaan negara lain.

Mengapa baru sekarang bicara? Baik Aden maupun Subroto menyatakan hal itu dilakukan karena sekarang Malaysia dinilai sudah keterlaluan, mengklaim berbagai aset budaya Indonesia. “Dulu Malaysia baik-baik jadi enggak ada yang protes. Tetapi sekarang Malaysia sudah keterlaluan, kita benar-benar dilecehkan,” ujar Subroto.

Kepala Cabang Perum Percetakan Negara Lokananta Solo, Ruktiningsih menegaskan Lokananta yang sejak tahun 1962 mendokumentasi lagu-lagu daerah dan nasional, menemukan ada kesamaan irama musik antara Lagu Negaraku dan Lagu Terang Bulan yang sejak tahun 1965 sudah didokumentasikan Lokananta.

————————————————-

sumber: oase.kompas.com

Category: Berita  Tags: , ,  Leave a Comment