Tag-Archive for » Stress «

Stres karena Salah Prioritas
Jumat, 14 Mei 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam literatur Psikologi mengenai konsep diri, dinyatakan bahwa banyaknya peran yang diemban oleh seseorang akan menghasilkan konsep diri yang positif. Namun, cukup sehatkah bila kita harus menjalani berbagai peran dalam waktu yang sama?

Orang yang hanya memiliki sedikit peran dalam hidupnya, misalnya hanya menjadi istri/suami/anak dalam keluarga dan kurang memiliki peran lain di luar keluarga, memiliki konsep diri yang lebih negatif daripada mereka yang memiliki berbagai peran dalam masyarakat.

Tampaknya setiap peran yang diemban oleh seseorang (di dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan rumah, di berbagai organisasi) memberikan kejelasan mengenai siapa dirinya dan memberikan perasaan bermakna.

Dari berbagai peran yang ada, umumnya peran di dalam keluarga dan peran pekerjaan merupakan hal yang dianggap sangat penting dalam hidup seseorang. Bila terjadi kegagalan dalam dua peran ini, seseorang akan merasa sangat kehilangan dan merasa dirinya telah gagal.

Meski demikian, banyak orang yang tidak cukup puas dengan hanya memiliki peran di dalam keluarga dan di dalam pekerjaan. Itulah sebabnya berbagai orgnisasi terus bermunculan, memberi kesempatan bagi banyak orang untuk melakukan berbagai kegiatan atas dasar hobi atau minat.

Dalam hal ini norma masyarakat dan agama ikut mendorong agar setiap orang memiliki peran sosial dalam kelompok agamanya dan dalam masyarakat. Dengan menjadi anggota sebuah kelompok atau organisasi, berarti seseorang telah menambahkan peran baru dalam hidupnya.

Memiliki Banyak Peran
Dalam hal pekerjaan, orang masa kini sering kali juga tidak cukup puas dengan satu pekerjaan. Mereka yang telah berhasil menjadi praktisi bisnis tertarik untuk menjadi pengajar pada lembaga pendidikan bisnis; yang menjadi pengajar tertarik terjun berbisnis atau pengembangan proyek pendidikan lainnya; yang telah menjadi pegawai pemerintah terjun pula ke bisnis, pendidikan, dsb.

Pendek kata, di kota-kota besar terdapat kecenderungan orang menerjuni berbagai peran sekaligus. Sementara tiap-tiap peran selalu memuat suatu tuntutan peran. Karena itu, semakin banyak peran yang diemban seseorang bukan saja memberikan efek konsep diri yang positif, melainkan juga berisiko menimbulkan konflik peran dan beban kerja yang berat.

Bagaimanapun, beban kerja yang berat dan konflik peran sangat potensial menimbulkan stres pada orang yang mengalaminya. Itulah sebabnya diperlukan pengelolaan agar stres yang muncul tidak berkembang menjadi keadaan yang membahayakan (distress): menurunkan kemampuan mental, menghambat kinerja, mengganggu kesehatan fisik.

Stres merupakan salah satu risiko kehidupan modern yang semakin kompleks, yang mendorong orang untuk terus “berlari” menjalani berbagai peran sekaligus, dengan beban kerja yang berat. Namun, ada yang perlu dicatat sebagai sesuatu yang sangat merugikan kualitas kita sebagai manusia, yakni kemampuan konsentrasi.

Di satu sisi lemahnya konsentrasi dapat muncul akibat stres, di sisi lain konsentrasi juga terjadi sebagai akibat langsung adanya berbagai peran sekaligus, dengan adanya beban kerja yang berat.

Dalam keadaan menjalani berbagai peran dengan tuntutan tugas yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan, tidak memungkinkan seseorang untuk dapat benar-benar fokus pada satu hal. Tanpa konsentrasi tinggi, kita tidak akan mampu untuk menghasilkan pemecahan masalah yang memuaskan.

Problem Konsentrasi
Betapa pentingnya konsentrasi, kita dapat melihatnya dari kebiasaan orang-orang genius dalam mengembangkan kreativitas dan memecahkan masalah. Salah satu di antaranya Leonardo da Vinci.

Salah satu karya da Vinci yang terkenal adalah lukisan Monalisa. Namun, kita tahu bahwa selain di bidang seni rupa, ia juga menghasilkan berbagai penemuan di berbagai bidang: botani, kedokteran, arsitektur kota, dan kemiliteran. Bagaimana mungkin satu orang menghasilkan berbagai penemuan penting yang sangat berharga bagi peradapan?

Salah satu kebiasaan penting yang mendasari kemampuannya yang luar biasa itu adalah kebiasaan da Vinci memberikan perhatian sepenuh-penuhnya terhadap apa saja yang diindranya, yang berarti konsentrasi.

Dalam sebuah permenungannya da Vinci menyampaikan komentar: “Rata-rata orang itu melihat tanpa memperhatikan, mendengar tanpa benar-benar menaruh perhatian, menyentuh tanpa perasaan, makan tanpa cita rasa, bergerak tanpa kesadaran jasmani, menghirup tanpa kesadaran bebauana atau wewangian, dan berbicara tanpa berpikir.”

Inayat Khan, tokoh sufi yang menulis buku Dimensi Spiritual Psikologi, menyatakan, “Dengan kesibukan yang kita alami, dengan seribu hal dalam sehari, kita biasanya tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.” Padahal, dengan konsentrasi seseorang dapat lebih tajam dalam intuisi.

Pada bagian lain Inayat Khan menjelaskan, “Orang dengan berbagai tanggung jawab besar dan banyak kepentingan dalam hidup, tidak dapat mempertahankan satu pikiran tunggal, yang sesungguhnya merupakan suatu kekuatan besar.”  Pikiran tunggal adalah terserapnya seluruh keberadaan seseorang dalam suatu pemikiran, percakapan, atau tindakan tunggal.

Bila kita selalu melatih diri dengan pikiran tunggal, kita akan lebih mampu untuk berkonsentrasi. Pikiran tunggal dikembangkan melalui latihan menetapkan pemikiran pada suatu subjek sampai pemikiran tentang hal itu selesai. Sementara kita berpikir tentang subjek tersebut, jangan sampai kita berpikir tentang subjek yang lain. Hal yang sama ini juga diterapkan dalam berbicara dan bertindak.

Hati-Hati Menyusun Prioritas
Pikiran tunggal merupakan hal yang sangat penting untuk mengembangkan konsentrasi. Untuk menyokong kebiasaan kita melakukan pikiran tunggal, ada hal yang perlu dilakukan, yakni menyusun prioritas. Hal ini sepertinya sudah biasa kita lakukan, yakni bila dihadapkan pada beberapa hal untuk diselesaikan, kita cenderung memilih satu atau dua hal untuk diselesaikan terlebih dahulu, dan menunda penyelesaian hal yang lain.

Biasanya kita memilih untuk terlebih dahulu menyelesaikan hal-hal yang mendesak (urgent) dan penting, berikutnya hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak, disusul dengan hal-hal yang tidak penting tetapi mendesak, dan terakhir hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting.

Bila digambarkan urutannya sbb:
Prioritas I: PENTING dan MENDESAK
Prioritas II: PENTING namun TIDAK MENDESAK
Prioritas III: TIDAK PENTING namun MENDESAK
Prioritas IV: TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK

Urutan tersebut sekilas tampaknya tidak mengandung masalah. Namun, seseorang yang telah menjalani hidupnya dengan berbagai peran secara sangat efektif ternyata memilih urutan yang berbeda.

Sebagai contoh, sebutlah namanya Ida, ia seorang istri dan ibu dua anak, bekerja sebagai konsultan perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang asing, menempuh pendidikan doktor dalam waktu tiga tahun di bidang yang sangat diminati, meski jauh dari keahliannya sebelumnya.

Ia menjalani program doktor dengan mondar-mandir Surabaya-Yogyakarta, tetap bekerja, dan masih sempat melakukan aktivitas sosial seperti menangani korban lumpur Lapindo di Sidoarjo. Ia menyayangkan kecenderungan banyak orang untuk selalu menomorsatukan urusan penting dan mendesak seperti urutan di atas.

Mengapa?
Satu hal yang menjadi risiko memprioritaskan hal penting dan mendesak adalah kita cenderung mengalami stres. Pilihan untuk mendahulukan hal yang mendesak, membuat kita terus-menerus menciptakan situasi yang terdesak dalam diri sendiri.
Keadaan ini selanjutnya membuat kita kurang mampu berpikir secara rileks (tenang) dalam bekerja. Padahal, bekerja dengan rileks merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penyelesaian tugas. Sebaliknya bila kita bekerja dengan perasaan terdesak, cenderung menghasilkan kelelahan secara fisik dan mental serta stres. Lalu, bagaimana sebaiknya?

Urutan prioritas yang disarankan adalah menukar tempat antara prioritas I dan II. Artinya yang didahulukan adalah hal-hal yang penting, tetapi tidak mendesak. Hal ini berarti kita bekerja bukan untuk mengatasi persoalan-persoalan, melainkan mengantisipasi supaya tidak terjadi persoalan di masa yang akan datang.

Selain lebih bermakna antisipatif, mendahulukan hal-hal yang tidak mendesak tidak membuat kita merasa selalu terdesak, sehingga kita tetap memiliki energi untuk pekerjaan-pekerjaan lain, termasuk pekerjaan yang penting dan mendesak. Itulah sebabnya, kita perlu bijaksana menyusun prioritas. @

M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

===============

source:

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/05/14/08425652/Stres.karena.Salah.Prioritas

Makan Junk Food Bikin Stres dan Depresi

Nurul Ulfah – detikHealth

img
Ilustrasi (Foto: obesityfacts)

Jakarta, Kebanyakan makanan yang enak-enak tergolong makanan tidak sehat, contohnya yaitu junk food. Makanan yang identik dengan lemak tinggi, manis-manis dan sedikit nutrisi itu kini diketahui merupakan salah satu penyebab stres dan depresi.

Studi terkini yang dimuat dalam The British Journal of Psychiatry menyebutkan bahwa makan junk food akan membuat seseorang depresi. Para pakar epidemiologi Inggris dan Perancis menganalisis makanan dan mood 3.486 partisipan pria dan wanita.

Setiap partisipan diminta untuk mengisi kuesioner yang menanyakan seberapa sering mereka mengonsumsi beberapa jenis makanan selama beberapa tahun terakhir. Kategori makanan terdiri dari dua jenis, yakni kategori makanan alami (buah-buahan, sayur, ikan, dan lainnya) serta katergori makanan hasil proses (cokelat, makanan manis dan penuh gula, makanan digoreng, daging olahan dan lainnya).

Lima tahun kemudian, partisipan tersebut diberi kuesioner lagi untuk mengetahui tingkat depresi dan gejala-gejala yang berhubungan dengan stres. Beberapa variabel seperti umur, jenis kelamin, dan pola hidup lainnya seperti kebiasaan merokok atau aktivitas fisik sudah diperhitungkan.

“Hasil yang kami temukan adalah, terdapat hubungan yang erat antara jenis makanan dengan gejala depresi. Partisipan yang sering mengonsumsi makanan olahan atau makanan junk food cenderung mengalami gejala stres dan depresi dibanding partisipan yang mengonsumsi makanan alami,” kata Tasnime Akbaraly, seorang peneliti seperti dikutip dari Newyorkdalynews, Minggu (17/1/2010).

Terlepas dari semua faktor kesehatan lainnya seperti merokok, olahraga atau berat badan seseorang, makanan junk food atau makanan olahan terbukti berkaitan dengan gejala depresi. Untuk itu, bila seseorang ingin menghindari depresi atau gejala bad mood lainnya, sebaiknya jangan coba-coba mengonsumsi jenis makanan tersebut.

“Yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Ketika seseorang sedang bad mood atau dalam masalah, ia cenderung mengonsumsi semua jenis makanan yang enak-enak. Dan kebanyakan makanan yang enak-enak itu adalah makanan yang berlemak, manis-manis dan bersodium tinggi seperti makanan-makanan junk food,” ujar Akbaraly dari National Institute of Health and Medical Research, Montpellier, Perancis.

Dengan mengurangi konsumsi daging olahan, makanan-makanan yang digoreng, manis-manis dan tinggi lemak, dijamin risiko depresi bisa berkurang. Sebaliknya, perbanyaklah makan buah-buahan dan sayuran tiap harinya.

“Pastikan sayur dan buah masuk dalam menu makanan sehari-hari, dan rasakan perbedaan mood yang dirasakan dibanding saat makan junk food,” kata Akbaraly.

(fah/ir)

source: detik.com

Dengar Musik Paling Banyak Dipilih untuk Hilangkan Stres

Nurul Ulfah – detikHealth

img
(Foto : Britishcouncil)

Albany, Tidak punya pekerjaan, bisnis merugi dan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat seseorang stres. Olahraga rutin diketahui bisa menghilangkan stres. Tapi jarang orang yang melakukannya dan memilih cara lain. Apa saja?

Ketimbang berolahraga misalnya, orang Amerika lebih memilih nonton film, main video game dan lainnya.

Dalam laporan American Psychological Association’s annual “Stress In America 2009″, sebanyak 1.568 orang dewasa disurvei secara online untuk mengetahui cara apa yang paling banyak dilakukan untuk menghilangkan stres.

Kebanyakan partisipan mengaku stres karena kurang motivasi dalam hidupnya. Stres juga bisa disebabkan karena munculnya penyakit sepeeti darah tinggi, sakit jantung atau pengerasan arteri.

“Stres akan memicu produksi hormon adrenalin yang akan meningkatkan detak jantung dan berpotensi memicu tekanana darah tinggi. Sakit kepala migrain juga meningkatkan kemungkinan stres,” ujar Dr. Joseph W Stubbs, seorang internis dari American College of Physicians, Albany seperti dilansir Forbes, Senin (4/1/2010).

Sebuah studi yang dipimpin peneliti dari Emory Institute for Advanced Policy Solutions juga menyebutkan bahwa tempat kerja adalah tempat yang paling banyak menimbulkan stres.

“Untuk itu setiap tempat kerja sebaiknya punya program penghilang stres seperti olahraga bersama, teknik relaksasi, terapi kognitif (otak) atau memperbanyak waktu bersosialisasi dengan rekan kerja,” kata Ken Thorpe, profesor kebijakan kesehatan dari Emory University.

Cara-cara yang banyak dipilih orang untuk menghilangkan stres yaitu:

  1. Mendengarkan musik (49 persen)
  2. Jalan-jalan (44 persen)
  3. Membaca (41 persen)
  4. Menonton film (36 persen)
  5. Berkumpul bersama teman atau keluarga (36 persen)
  6. Main video game atau browsing di internet (33 persen)
  7. Tidur siang (32 persen)
  8. Berdoa (32 persen)
  9. Makan (28 persen)
  10. Menghabiskan waktu melakukan aktivitas hobi (27 persen)
  11. Pergi ke tempat religius (19 persen)
  12. Belanja (15 persen)
  13. Merokok (14 persen)
  14. Minum alkohol (14 persen)
  15. Olahraga (10 persen)
  16. Pergi ke tempat spa atau tempat pijat (10 persen)
  17. Meditasi atau yoga (7 persen)
  18. Mengunjungi pakar mental atau psikiater (4 persen)

�(fah/ir)

source: detik.com

Category: Berita  Tags: ,  One Comment
5 Makanan Penghilang Stres

Nurul Ulfah – detikHealth

img
(Foto: horizonherbs)

Jakarta, Banyak makanan yang diketahui bisa menghilangkan stres, seperti cokelat atau es krim. Tapi ternyata ada jenis makanan lainnya yang bisa melawan stres dan membuat tubuh tetap sehat. Apa saja?

Seperti dikutip dari Shine, Kamis (22/10/2009), ada 5 jenis makanan yang bisa menghilangkan stres, yaitu :

1. Bayam
Menurut Beth Reardon, RD, pakar nutrisi dari Duke Integrative Medicine in Durham, North Carolina, tiga mangkuk bayam bisa mensuplai 40 persen kebutuhan magnesium, yang merupakan mineral yang bisa mengurangi efek stres di dalam tubuh dengan cara mencegah tekanan darah melonjak. Masukkan bayam dalam omelet atau sandwich jika tidak terlalu suka memakannya terpisah.

2. Jeruk
Bahkan orang sehat yang sedang stres pun bisa kena sakit, demikian menurut studi yang dilakukan peneliti dari Carnegie Mellon University di Pittsburgh. Tensi darah sangat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Namun hal itu bisa dilawan dengan konsumsi vitamin C rutin yang banyak terdapat dalam jeruk. Vitamin C akan memperbanyak sel-sel imun tubuh dan mengurangi risiko masuknya virus.

3. Cokelat
Sudah tidak heran lagi jika cokelat disebut sebagai makanan penghilang stres. “Cokelat akan meningkatkan level zat-zat neurotransmitter ke otak yang akan memicu pengeluaran hormon-hormon pembuat senang dan rileks seperti dopamin,” ujar Alan Hirsch, MD, direktur Smell & Taste Treatment and Research Foundation, Chicago.

4. Ikan
Kandungan omega 3 dalam ikan-ikan laut seperti salmon dan tuna bisa meningkatkan kemampuan otak dan mengurangi kepikunan. Dalam sebuah studi yang dimuat dalam Diabetes & Metabolism, partisipan yang mengonsumsi ikan tersebut selama 3 minggu diketahui mengeluarkan hormon anti stres yang lebih tinggi saat melakukan beberapa tes kognitif.

5. Gandum utuh
Vitamin B yang banyak terkandung dalam gandum utuh akan menstimulasi produksi hormon serotonin, sebuah hormon dan zat neurotransmitter yang akan mengirim sinyal menenangkan dalam otak. Elisa Zied, RD, pengarang buku Nutrition at Your Fingertips pun mengatakan bahwa gandum utuh akan dicerna tubuh secara perlahan sehingga hormon serotonin yang dikeluarkan pun akan bertahan lama.

Jika lain kali Anda sedang stres cobalah konsumsi makanan-makanan di atas.

Category: Berita  Tags: ,  3 Comments
Benarkah Stres Merontokkan Rambut?

Senin, 28 September 2009

KOMPAS.com — Jenis stres yang bisa membuat rambut rontok adalah telogon effluvium. Pada kondisi ini, stres, baik fisik maupun emosional, seperti kematian anggota keluarga, kehamilan, menjalani operasi, akan menyebabkan rambut yang sedang tumbuh berada dalam fase beristirahat. Akibatnya, rambut jadi lebih rapuh dan mudah rontok karena hal-hal sederhana seperti menyisir rambut atau keramas.

Menurut Daniel K Hall-Flavin, MD, psikiatri dari Rumah Sakit St Louis, AS, pada sebagian orang, stres yang berat bisa memicu kerontokan rambut yang disebut juga alopecia areeata. Pada kondisi ini, sel darah putih menyerang folikel rambut sehingga rambut berhenti tumbuh.

“Dalam hitungan minggu, rambut akan rontok. Kerontokannya dimulai dari sebagian kecil atau bisa langsung banyak sehingga terlihat botak,” kata Flavin. Selain di bagian kepala, rambut di bagian tubuh lain juga bisa ikut-ikutan rontok.

Untunglah kondisi kerontokan tersebut sifatnya sementara. “Bila masalah yang menyebabkan stres itu sudah hilang maka rambut akan kembali tumbuh,” kata Flavin.

Category: Berita  Tags:  Leave a Comment
Atasi Stress Anda dengan baik dan bener…;)

Apa itu sebenarnya stres? Stres adalah suatu kondisi psikologis/jiwa kita yang sedang tertekan. Jika stress terus berlanjut, kita bisa menjadi depresi dan yang pasti bakal merugikan tubuh kita sendiri.

Nah, apa yang menyebabkan psikologis/jiwa kita tertekan? Penyebabnya beragam. Stres terbesar pada remaja biasanya pencarian jati diri, hubungan dengan orangtua, pergaulan dengan teman, dan masalah prestasi sekolah. Sedang orang dewasa sering mengalami stres karena masalah hidup di kota, pekerjaan yang bersaing dan menuntut serta hubungan dalam keluarga.

Faktor lainnya yang juga berperan banyak adalah lingkungan tempat tinggal dan bekerja. Pencemaran, kebisingan, kemacetan, lingkungan yang kumuh dan sampah di jalanan dapat menciptakan frustasi pada masyarakat yang tinggal. Stres yang disebabkan oleh lingkungan macam ini dapat membangkitkan rasa marah dan agresi.

Stres atau kondisi apa pun yang membebani pikiran dapat menganggu keseimbangan metabolisme tubuh. Contoh yang paling sering adalah gangguan pada koordinasi saraf pada saluran pencernaan. Pada orang stres, gejalanya adalah diare. Ini terjadi karena gerakan usus yang diatur oleh saraf menjadi lebih cepat daripada biasanya. Akibatnya, timbul gejala seperti nyeri perut atau diare.

Sekarang bagaimana solusinya? Pertama, hindari stres dengan cara yang benar, yakni berpikir positif. Misal kita mau ujian, pusatkan konsentrasi pada materi pelajaran saja. Jangan berpikir soal hasil dulu. Kadang yang membuat kita kalah sebelum bertanding adalah rasa takut yang ada di benak kita, sehingga kita jadi nggak bisa beneran. Kalaupun hasilnya belum maksimal jangan langsung drop atau kecewa banget. Lebih baik kita cari di mana kesalahannya daripada menyesali nasib.

Solusi kedua adalah hadapi stres dengan baik dan benar. Caranya adalah dengan merenung sebentar sebelum tidur. Pikirkan masalah yang terjadi, lakukan evaluasi, kemudian coba cari solusinya. Terus jangan lupa akan satu hal, jaga kondisi tubuh dengan optimal. Kita bisa olahraga dengan teratur, makan makanan bergizi tepat dan istirahat yang cukup. Terakhir, banyaklah berdoa karena pada akhirnya yang menentukan suatu hasil adalah Tuhan jua.

Category: Tips N Trick  Tags:  Leave a Comment